リ島の残留日本兵 
平良定三 高木米治 荒木武友 / 松井久年 ワジャ
堀内秀雄 大館 工藤 栄 美馬芳夫
大 館

バリ名をnyoman senia 日本名は大館(otate)であった。
クダのトゥバンに「レッド・エレファント」という日本軍の駐留本部があった。
彼は、その軍に所属していたが、ある夜、そこを脱出した。

バンジャール・ジャンベェに着いたのは、夜の23時であった。
彼は、ワルンで若者がトランプをしているのを見つけた。
彼は、近寄り「水をくれ」と頼んだ。
若者達は彼が日本人であったので驚き、その場で彼を逮捕した。
若者達は、彼をクロボカンの本部に連行した。
クロボカンの村の指導者は、数日調査したあと、
彼のバリ軍に入る意志を確認した。
そして彼の名をNyoman Sunia とした。
静か(スニー)な夜に現れたので、そう名づけたのである。

彼はバリ軍兵士の訓練を指導した。
1946年5月、クロボカン村はオランダ軍に包囲された。
彼の率いる軍は、タバナンの地に逃げた。
が、ムンドゥク・サワでは激しい戦いとなった。
彼はこの戦いで戦死した。
1994年10月6日、大館の銅像がクロボカンの地に建立された。


(註)

上記のように簡単な記述に留まっているが、
記述以上の活躍があったものと見られ、クロボカンに慰霊碑が建てられている。




バリ人戦友が語る大館.......

(原文)
Seperti diketahui, bahwa bangsa Jepang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Di Bali, pendaratan serdadu Jepang dimulai di Padanggalak sanur, Denpasar. Pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Presiden RI ditunjuk Mr. I Gusti Ketut Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil dan Ida Bagus Putra Manuaba sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Sunda Kecil. Disamping pemerintah Indonesia, di Sunda Kecil pemerintah bala tentara pendudukan Jepang masih tetap berkuasa, meskipun teah menyatakan menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Pada tanggal 8 oktober 1945 kekuasaan pemerintahan untuk provinsi Sunda kecil oleh Cho Kang diserahkan kepada Gubernur Sunda Kecil.
Pada tanggal 13 Desember 1945 pasukan Pemuda di Bali merencanakan mengadakan serangan umum terhadap bala tentara Jepang di Bali. Serangan ini mengalami kegagalan,kemudian pasukan pemuda melanjutkan perang gerilya. Pada tanggal 2 Maret 1946 serdadu Gajah Merah ini, salah seorang bala tentara Jepang yang bertugas di Tuban yang bernama Otate melarikan diri menuju kearah utara. Sebagai latar belakang pelariannya itu tiada lain untuk menggabungkan diri dengan pasukan pemuda, khusunya para pemuda pejuang yang berada di desa Kerobokan (badung). Di samping itu, karena beliau telah menyadari bahwa Negara mereka telah kawah melawan tentara sekutu.
Perlu juga diketahui bahwa pelarian Otate ini pada malam hari. Banjar yang dituju dalam pelarian tersebut adalah banjar Jambe. Kebetulan pada saat itu di Banjar Jambe di warung I Made Kecrungan beberapa pemuda pejuang desa Kerobokan sedang “Meceki”. Otate mendengar ada suara para pemuda sekitar jam 23.00 di warung tersebut, akhirnya beliau menggendor pintu sambil berkata “minta air, minta air”. Mendengar kata-kata demikian salah satu diantara pemuda yang ada di warung tersebut, yaitu I Gede Durna Ary Tenaya siap-siap mengambil sebuah alat pemarut kelapa untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Setelah pintu warung dibuka ternyata orang yang menggedor pintu adalah salah seorang bala tentara Jepang.
Saat itu orang Jepang itu menunduk, akhirnya para pemuda yang ada disana melakukan penangkapan terhadapnya dan akhirnya dibawa ke Banjar Pelihatan, karena pada saat itu Markas “K” (Kerobokan) berada disana. Otate kemudian diserahkan kepada I Gede Deger Usadha selaku pimpinan Markas”K”.
Setelah diusut beberapa hari di desa Kerobokan, akhirnya tokoh-tokoh desa Kerobokan sepakat untuk mengganti nama Otate dengan nama Indonesia yakni ganti dengan nama I Nyoman Sunia. Menurut penjelasan I Made Patra, I Nyoman Gangsir dan I Gede Durna Ary Tenaya, Otate dinamakan I Nyoman Sunia karena datangnya pada saat malam hari yang sangat sunyi. Selanjutnya tokoh-tokoh desa Kerobokan mengangkat I Nyoma Sunia sebagai pelatih yang pada saat itu berpusat di Banjar Klicung. Oleh karena desa Kerobokan selalu dikurung oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA), akhirnya I Nyoman Sunia menyingkir ke beberapa desa di daerah Tabanan. Akhirnya dalam pertempuran sengit di Munduk Sawah pada tanggal 22 Mei 1946, I Nyoman Sunia gugur dalam upaya ikut mempertahankan Proklamasi Kernerdekaan Indonesia, walaupun beliau bangsa Jepang dan pernah menjajah Indonesia. Oleh karena itu patutlah para pejuang desa Kerobokan membuat
patungnya pada Monumen Perjuangan Wira Dharma Negara yang telah diresmikan oleh Gubernur Bali Ida Bagus Oka pada tanggal 6 October 1994.